Jadwal Terencana Open Trip dan Private Trip


SALAM PETUALANGAN !!!

Apabila membutuhkan bantuan informasi, konsultasi, reservasi segera hubungi +62 85 643 455 685 [[ Syarif ]] melalui WhatApp. Pesan anda akan kami respon dengan respon terbaik kami !!!

Mendaki Gunung Pasca Covid-19, Berikut Penjelasannya

Danau Ranu Kumbolo - Sebelum Pandemic Covid-19
Tidak sedikit yang menanyakan tentang keamanan pendakian gunung bersama kami. Tidak sedikit yang menanyakanan kapan gunung akan dibuka kembali.

Oleh karenanya kami mencarikan referensi yang tepat terkait dengan kegiatan alam tersebut dan yang cukup lengkap kami kutip dari kumparan yang ditulis oleh Bapak Harley B Sastha

Semoga informasi ini menjawab pertanyaan rekan rekan kepada kami terkait potensi keselamatan dan keamanan pasca pandemi covid-19 yang akan segera berubah dengan konsep new normal.

Amankan mendaki pasca covid-19 ??
Apa saja syarat mendaki pasca covid-19 ??
Apa saja tips mendaki pasca covid-19 ??
Gunung mana saja yang dibuka pasca covid-19 ??
Apakah akan ada gelombang kedua covid-19 ??

Artikel dari Kumparan
Amankah Mendaki Gunung pada Masa (Pasca) Pandemi COVID-19?
Oleh : Harley B Sastha


 
Pendaki saat berjalan di tubigr atau gigiran kawah puncak di TN Gunung Ciremai. Foto: Harley Sastha

Ingat, tidak ada jaminan kamu tidak terpapar virus Corona saat dalam perjalanan menuju pintu masuk pendakian. Atau, misalnya kamu atau teman-teman sependakian masuk kategori orang tanpa gejala (OTG). Akhirnya berpotensi menularkan dan tertular.

Gunung dan beberapa lokasi wisata alam lainnya, menjadi yang paling ingin dituju setiap orang untuk melepaskan penat, kebosanan dan lelah saat semua aktivitas sudah hampir dua bulan dilakukan dari rumah, sejak Maret 2020. Di antaranya: bekerja dari rumah atau work from home (wfh), belajar dari rumah, dan ibadah dari rumah.

Pemberlakuan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa daerah yang sudah berlangsung lebih dari satu bulan, semakin membuat orang memendam rindu berinteraksi dengan alam. Mulai dari pantai, sungai, laut, hingga puncak-puncak gunung.

Terlepas dari PSBB yang sebenarnya dalam pelaksanaannya di lapangan masih cukup banyak terjadi pelanggaran, belakangan mencuat tentang relaksasi, wacana pelonggarannya. Salah satunya, pembukaan tempat wisata, termasuk destina wisata alam. Seperti taman nasional dan taman wisata alam. Sementara, para ahli epidemiologi di dunia dan Indonesia, mengatakan, pandemi virus corona belum akan berakhir dalam waktu yang cepat. Bahkan, bisa saja lebih lama dari yang diduga.

Pada beberapa komunitas pendakian gunung di media sosial, terungkap berbagai rencana gunung yang akan didaki pasca pandemi COVID-19 atau jika sudah dibuka kembali. Sewaktu mengikuti obrolan daring melalui google meeting, muncul beberapa pertanyaan kepada Saya. Ada yang menanyakan gunung mana yang sudah bisa didaki, kapan gunung dibuka lagi, bagaimana nanti aturannya dan lain-lain.

 
Bermalam dengan tidur di tenda di TN Gunung Merbabu. Foto: Tim Jelajah 54 TN Indonesia

“Yang paling dirindukan adalah tidur di hotel berbintang seribu, rindu banget sampe nyesek,” begitu komentar Beedeti dalam akun media sosial Gunung Indonesia, mengungkapkan kerinduannya akan mendaki gunung.

Destinasi wisata alam untuk mendaki gunung, salah satu yang banyak ingin dikunjungi saat ini. Namun, bisa dikatakan wilayah ini, juga merupakan salah satu yang rentan dan berisiko tinggi dalam penyebaran virus Corona. Mulai dari perjalanan menuju lokasi, pintu masuk, saat pendakian, dan lain-lain. Semua memungkinkan kamu berinteraksi dan bersentuhan satu dengan yang lainnya. Belum lagi, beberapa pendakian menuntut kamu untuk bermalam dan dilakukan lebih dari satu hari.

Pikirkan, jika kamu atau teman-teman sependakian sakit demam, hypotermia atau pingsan. Di mana saat itu terjadi, kamu sudah sangat jauh naik ke atas gunung atau sudah di puncak. Siapa yang akan berani menolongnya? Petugas atau kamu sendiri? Bagaimana protokolnya kesehatan dan keamanannya? Harus lengkap menggunakan APD kah?

Karena dikhawatirkan dalam kondisi pandemi masih berlangsung, mungkin saja sakitnya karena terpapar COVID-19. Pikirkan juga kondisi medan pendakian saat yang tentu tidak mudah untuk melakukan pertolongan saat terjadi kecelakaan. Situasi seperti ini akan lebih rumit untuk memberikan pertolongan.

Saat ini, semua orang harus menjalani protokol COVID-19: physical distancing, jaga jarak, menggunakan masker, cuci tangan, dan membawa hands sanitizer.

Apakah akan sama kunjungan sebelum pandemi virus Corona dengan sesudahnya? Kapankah wabah ini akan berakhir? Mungkin saja pada kunjungan ke lokasi wisata alam akan mengalami perubahan. Karena belakangan, seluruh dunia sedang dalam tahap pembahasan ‘Tatanan Dunia Baru Pasca COVID-19’.

 
Sekelompok pendaki saat di jalur pendakian TWA Gunung Batur. Foto: Harley Sast

The New Normal atau normal yang Baru. Sebuah istilah yang kian mengemuka saat ini. Setiap orang akan dituntut siap menghadapi kebiasaan yang berbeda dengan pra-COVID-19. Terlebih vaksin virus Corona, hingga saat ini belum ditemukan atau masih dalam penelitian oleh para ahli.

Tidak dapat dipungkiri, mewabahnya virus Corona telah mengubah perilaku kehidupan manusia sehari-sehari. Cara bergaul atau berhubungan sosial, bekerja, memesan makan di restoran, belanja, kesehatan, sanitasi dan lain-lain.

Menurut, ahli Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, pandemi akan berlangsung lama. Jadi, harus sudah membiasakan dengan new normal life atau pola hidup normal yang baru.
Mendaki Gunung Pada Masa atau Pasca Pandemi COVID-19

Hingga saat ini, belum ada satu pun para ahli berani mengatakan kapan akhir dari pandemi COVID-19. Nah, bagaimana jika saat masa pandemi masa berlangsung, destinasi wisata alam sudah dibuka kembali. Begitu itu terjadi, akan ada gelombang kunjungan wisatawan yang besar. Salah satunya, kawasan gunung dan pegunungan yang saat beberapa tahun terakhir ini menjadi salah satu destinasi favorit untuk bertualang.

Tidak dapat dipungkiri, melakukan kegiatan di alam terbuka akan membuat tubuh kamu lebih bugar. Membuat rileks pikiran. Sangat baik untuk mental dan fisik. Tetapi, bagaimana jika itu dilakukan pada masa COVID-19 masih terjadi. Bagaimana dengan protokol kesehatan COVID-19 yang harus dijalankan.

Begitu pun dengan aktivitas mendaki gunung. Mungkinkah pada masa seperti itu, mendaki ke semua gunung diperbolehkan. Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, ada beberapa hal risiko dan rentan saling tular dan menulari COVID-19 yang harus jadi perhatian, saat kamu memutuskan pergi berlibur pada satu destinasi wisata alam. Namun, untuk pendakian gunung, mempunyai risiko yang lebih tinggi lagi. Di antaranya: awal perjalanan, sanitasi, pintu masuk pendakian, kondisi jalu, dan areal kemping.

 
Sekelompok pendaki sedang beristirahat di Tobaco House, saat mendaki di TN Gunung Leuser. Foto: Harley Sastha

Setidaknya, dengan melihat hal-hal berikut, semoga dapat meminimalisir kemungkinan terinfeksi dan menginfeksi COVID-19 saat beraktivitas di alam terbuka, khususnya mendaki gunung di masa pandemi atau (pasca) pandemi COVID-19. Namun, ini juga dapat berlaku pada destinasi wisata alam lainnya, sesuai kondisi dan situasional wilayahnya.

Riset

Hal ini menjadi penting saat ingin mengunjungi destinasi wisata alam. Sebagai bahan interpretasi kamu mengenai destinasi yang jadi tujuan. Sekaligus membangun chemistry dengan dengan alam. Dengan seperti itu, kamu akan mempunyai pegangan mengenai kondisi sosial adat dan budaya setempat, tata dan aturan yang berlaku, status kawasan, dan lainnya.

Pada masa pandemi seperti sekarang ini, riset semakin bertambah penting. Karena, kamu dapat mengetahui atau mencari tahu. Apakah kamu berasal dari zona merah atau hijau atau berapa tempat yang masuk zona juga, yang kemungkinan akan dilalui saat menuju awal pendakian. Sebaiknya cari tahu, patuhi dan ikuti aturan protokol kesehatan daerah setempat.

Kamu juga coba perlu cari tahu, protokol kesehatan dan keselamatan COVID-19 yang telah dilakukan pada destinasi destinasi wisata alam yang menjadi tujuan kamu.

Minimalisir Risiko Saat Bersentuhan dan Interaksi Saat di Perjalanan dan Pendakian


 
Pendaki dari mancanegara sedang mendaki di TN Gunung Rinjani. Foto: Harley Sastha

Ketika memutuskan untuk memilih gunung yang didaki dan jalur mana yang akan digunakan, tentu kamu harus memutuskan transportasi menuju lokasi. Kendaraan pribadi atau umum. Dan, berapa kali harus berhenti di perjalanan untuk beristirahat.

Ingat, saat ini tidak ada jaminan kamu tidak akan terpapar virus Corona saat dalam perjalanan menuju destinasi wisata alam tujuan. Karena, akan ada kemungkinan akan kontak dengan orang-orang yang tidak kamu tidak ketahui riwayatnya. Bagaimana kalau mereka masuk kategoti orang tanpa gejala (OTG). Atau kamu sendiri yang ternyata OTG.

Sebenarnya, untuk kondisi seperti sekarang, salah satu cara meminimalisir risiko, sementara waktu tidak melakukan pendakian yang jauh dari tempat kamu tinggal. Jadi, waktu dalam perjalanan kamu menjadi lebih pendek. Untuk itu, kamu dapat mengecek lagi, gunung apa saja yang lokasinya dekat. Tetapi, kalaupun memang harus jauh dari wilayah tempat tinggal kamu, pastikan tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19.

Pastikan kamu sudah menyiapkan logistik, alat kebersihan, makanan, minuman, dan keperluan masak untuk pendakian sebelum berangkat. Tujuannya, meminimalisir interaksi atau bersentuhan dengan orang asing.

 
Pintu masuk dan pos pendakian jalur Selo, TN Gunung Merbabu. Saat musim pendakian, akhir pekan dan hari libur lebih ramai. Foto: Harley Sastha

Beberapa tempat di pintu masuk destinasi wisata alam, seperti di jalur pendakian akan ada sentuhan untuk menggunakannya. Sarana dan prasaran (sarpras) serta fasilitas yang disiapkan pengelola menjadi bagiannya. Di antaranya, seperti pos registrasi atau lapor, toilet, tempat untuk mengambil air minum, alat tulis, tiket, papan informasi dan petunjuk atau sign bangunan shelter, pos-pos pendakian dan areal camp. Semuanya ini memungkinkan kamu menyentuhnya yang bisa jadi menjadi sumber penularan. Karena akan disentuh oleh semua orang yang datang.

Untuk itu, minimalisir kemungkinan terpapar virus, pertimbangkan untuk menggunakan sarung tangan. Usahakan untuk tidak menyentuh sarpras dan fasilitas umum yang disediakan sebagaimana yang sudah disebutkan. Membawa alat tulis sendiri, seperti pulpen atau pena untuk mengisi registrasi.

Membawa kebutuhan air untuk minum dan lainnya sendiri dan hitung kecukupannya, perlengkapan sanitasi dan kesehatan lainnya sendiri.

Selalu gunakan masker sebagai salah satu syarat wajib protokol kesehatan. Ini dapat meminimalisir kemungkinan menulari dan tertulari saat interaksi dengan orang lain atau asing tidak dapat dihindari.

 
Beberapa kelompok pendaki saat naik dan turun di jalur pendakian TN Gunung Merbabu. Foto: Harley Sastha

Hindari menggunakan jalur pendakian yang populer dan cenderung ramai. Jadi, dapat mengurangi kerentanan atau risiko berinteraksi. Cukup dengan lambaian tangan, senyuman atau kontak mata untuk menunjukkan keramahan.

Pertimbangkan untuk mengunjunginya saat hari kerja atau di luar akhir pekan dan libur. Kamu dapat mulai mendaki pagi-pagi sekali saat masih belum ramai. Menghindari jalur-jalur pendakian yang populer atau ramai.

Berbagai situasi di lapangan akan membuat kamu mungkin kesulitan mengontrolnya. Misalnya di jalur wisata yang sempit, di mana kamu harus berbagi jalan dengan orang dari keluarga atau kelompok lain. Saat akhir pekan atau libur, risiko tertular dan menulari akan semakin tinggi, karena saat itu kemungkinan berinteraksi dengan orang asing diluar komunitas kamu juga tinggi.

Ingat, dalam hal ini semuanya, minimalkan interaksi atau bersentuhan dengan orang-orang diluar keluarga dan kelompok perjalanan atau pendakian kamu.

Salah satu kuncinya, lebih dimaksimalkan lagi semua persiapan dan perlengkapan untuk kebutuhan pendakian kamu, dilakukan secara mandiri. Benar-benar mandiri. Mengurangi kontak sosial yang tidak perlu. Harus memastikan dalam kondisi benar-benar bugar dan sehat. Minimalkan waktu pendakian kamu. Tidak perlu lama-lama beristirahat di setiap pos dan melakukan kegiatan yang tidak perlu. Kamu juga harus semakin bertanggung jawab dengan sampah yang kamu hasilkan selama beraktivitas. Simpan dan bawa kembali turun.

Kelompok Pendakian


 
Sekelompok pendaki saat berisitirahat untuk makan dan minum di TN Gunung Ciremai. Foto: Harley Sasth

Sebaiknya, tidak melakukan pendakian dengan jumlah anggota kelompok yang besar, di mana anggotanya dil uar keluarga atau komunitas yang benar-benar sudah kamu ketahui riwayatnya. Lebih baik dengan kelompok kecil. Karena, dalam satu kelompok, kecenderungan berbagi makanan dan air sudah umum. Berkemah di tempat camp untuk beristirahat akan berdekatan. Untuk ini tentu akan jadi tantangan dalam jaga jarak atau physical distancing.

Selalu dapat mengatur jaga jarak yang wajar dengan orang di luar kelompok kamu saat perjalanan atau pendakian. Menyiapkan perbekalan makanan sejak sebelum berangkat itu jadi pilihan yang tepat untuk kelompok. Dan lebih baik setiap anggota kelompok membawa perlengkapan makan sendiri.

Membawa alat pembersih cuci tangan atau hand sanitizer–ini bermanfaat jika sewaktu-waktu harus berbagi makanan saat pendakian dan berkemah. Menyiapkan tempat cuci tangan di camp yang dapat digunakan saat sebelum makan dan sesudah makan.

Basecamp Pendakian

Basecamp bisa jadi juga merupakan salah satu tempat yang rentan dan berisiko sebagai sumber penyebaran virus. Karenanya, pastikan basecamp yang akan kamu datangi dan gunakan, mematuhi protokol kesehatan dan keamanan COVID-19. Karena, ini merupakan salah satu tempat yang ramai didatangi pendaki sebelum mendaki dan sesudahnya. Tidak sedikit para pendaki menitipkan sebagian bawaannya di sini. Sehingga potensi untuk bersentuhan dan interaksi satu sama lain cukup tinggi di sini

Suasana salahsatu basecamp pendakian di jalur Selo, TN Gunung Merbabu. Pada masa pendemi dan ditutupnya sementara pendakia, terlihat sepi. Foto: Basecamp Parman

Selain basecamp, ada juga warung yang menjajakan makanan dan minuman kebutuhan pengunjung. Ini juga termasuk tinggi risikonya. Di mana para pengunjung biasa berinteraksi di warung-warung tersebut. Dan tempat penjualan souvenir dan penjualan dan perlengkapan pendakian di sekitar basecamp, juga termasuk yang berisiko.

Kesiapan Pengelola Kawasan Wisata Alam

Sebagai yang mengelola dan mengatur kawasan destinasi wisata alam, alangkah baiknya, sudah harus mempersiapkan standar pengelolaan atau penyelenggaraan sesuai standar protokol keamanan dan kesehatan COVID-19 yang dikeluarkan pemerintah pusat.

Hal tersebut dapat menjadi acuan masing-masing pengelola taman nasional, taman wisata alam dan wisata alam lainnya, sesuai dengan kondisi dan situasional masing-masing lokasi.

Bagi pengelola, mungkin bisa sudah bisa dipikirkan atau dipertimbangkan untuk membuat jalur satu arah. Mengelola arusnya, membedakan jalur naik dan turun, untuk meminamilisir kemungkinan tinggi bersentuhan dan berinteraksi. Terlebih untuk wilayah atau jalur pendakian yang populer atau favorit

 
Kantor Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango, Cibodas. Foto: Buana Darmansyah

Dapat juga dipertimbangkan untuk membuka jalur pendakian secara bertahap dan hanya membolehkan pendakian tanpa bermalam. Kalaupun untuk pendakian lebih dari satu hari, tetap dibuka, setidaknya sudah memastikan areal camp dapat diatur sedemikian rupa. Sehingga jaga jarak dan physical distancing tetap dapat dilakukan.

Pengelola juga sudah mulai mengatur bagaimana protokol physical distancing dan jaga jarak dapat berjalan di pintu masuk, pos-pos pendakian, saat registrasi dan lainnya. Termasuk tempat sanitasi seperti toilet dan kamar mandi juga sudah dilengkapi dengan sabun dan air yang cukup. Bila perlu, ada penambahan keran air lengkap dengan sabun untuk cuci tangan di tempat-tempat strategis dan penting. Masalah sampah juga harus semakin ketat dibuat aturannya. Jangan sampai ini menjadi potensi penyebaran virus juga.

Kejadian pandemi COVID-19 dapat dijadikan menjadi momentum untuk pengelola memaksimalkan sistem booking dan pendaftaran online bagi para pengunjung.

Kalau ada pendaki sakit dan mengalami di gunung saat pendakian, tim rescue juga sudah siap, menjaga segala kemungkinan jika, tanda-tandanya mengarah pada COVID-19. Ini, juga sudah yang harus dipertimbangkan. Misalnya, membuat tim rescue bekerja sama dan berkoordinasi dengan Tim Gugus Tugas COVID-19 sesuai wilayahnya, tim medis dinas kesehatan setempat, BPBD, dan SAR.

 
Sekelompok pendaki sedang berjalan di tubir atau gigiran kaldera puncak gunung Tambora, TN Tambora. Foto: Harley Sastha

Jadi, masalah pembukaan tetap harus juga mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah setempat dan Tim Gugus Tugas COVID-19 daerah. Untuk pengelola, sebaiknya sudah harus menyediakan tim rescue sesuai protokolnya.

Mengenai warung penjual makan dan minuman, souvenir, pemilik basecamp dan homestay, sebaiknya pengelola dapat mempertimbangkan untuk memberi pengarahan dan mengedukasi tempat-tempat tersebut dan pemiliknya untuk melaksanakan protokol keamanan dan kesehatan COVID-19.

Jangan sampai, mereka terpapar dari pengunjung yang OTG ataupun sebaliknya. Lalu, saat mereka pulang, menularkan kepada anggota keluarganya atau lingkungan sekitar.

Keamanan dan Kesehatan Petugas Lapangan dan Volunteer

Bagaimanapun, para staff dan pekerja taman nasional dan taman wisata alam, akan menjadi rentan tertular dan menularkan. Karena, mereka berhubungan langsung dengan pengunjung dan masyarakat, yang bisa jadi salah seorang di antaranya OTG atau sebaliknya.

Demikian halnya juga dengan para volunteer yang membantu petugas di lapangan. Mereka akan menjadi rentan dan berisiko saling menularkan satu sama lain dengan pengunjung. Karenanya, perlu dipertimbangkan untuk segera membuat aturan agar dapat melindungi mereka.

Perlukah Surat Bebas COVID-19


 
Virus corona punya duri-duri di permukaan tubuhnya. Sekilas, mirip buah rambutan. Foto: Shutterstock

Mengenai wacana perlu tidaknya pengunjung destinasi wisata alam atau pendaki gunung membawa surat bebas COVID-19, masih harus dibicarakan lagi. Karena tidak sesederhana yang dipikirkan.

Pertanyaanya, siapa yang bertanggung jawab mengeluarkan surat itu. Perlu adanya jaminan tidak ada jual beli surat bebas COVID-19 yang aspal (asli tapi palsu) atau bahkan benar-benar palsu. Karena seperti yang diketahui untuk melakukan test COVID-19 menggunakan PCR Swab-Test, biayanya tinggi, bisa mencapai jutaan.

Berapa lama jangka waktu surat tersebut dapat digunakan. Apakah setiap akan mendaki gunung harus membuat surat lagi. Apa jaminannya, saat sudah mengantongi surat bebas COVID-19, kemudian di perjalanan sebelum tiba di pintu masuk pendakian, yang bersangkutan tidak terpapar.

Saat berdiskusi dengan satu group pendakian, ada yang mengatakan kepada saya: ‘Kalau misalnya menggunakan Rapid Test, gimana bang, kan lebih cepat. Tetapi biayanya lumayan juga, bisa ratusan ribu.’

 
Tes swab ke salah satu pengunjung Mall Paragon Semarang. Foto: Afiati Tsalitsati/kumparan

Untuk itu, kalau itu menjadi salah satu syarat wajibnya, siapa yang akan menanggungnya. Dibebankan pada si pengunjung atau pendaki itu sendirikah. Jadi, sekali lagi tidak sesederhana membalikkan telapak tangan untuk mewajibkannya. Harus ada aturan yang jelas. Karena, berdasarkan obrolan di group pendakian dan media sosial, jika harus mereka yang menanggungnya, sebagian besar berpikir ulang. Karena biayanya yang tinggi.

Atau mungkin, cukup dengan pengaturan dan ketegasan pemberlakuan protokol kesehatan dan keamanan standar COVID-19, ditambah dengan pemeriksaan kesehatan dan alat pengukur suhu tubuh di setiap pintu masuk destinasi wisata.

Ancaman Gelombang Kedua

Tanpa persiapan dan perencanaan yang tepat dan matang, jangan sampai destinasi wisata alam nanti justru menjadi salah satu cluster atau epicentrum baru munculnya gelombang kedua penyebaran virus corona.

Sebagaimana disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Fakultas Keseharan Masyarakat (FKM) UI, Pandu Riono. Menurutnya, sampai saat ini Indonesia belum memiliki kurva epidemi COVID-19 yang dapat menentukan sumber dan waktu terjadinya penularan serta puncak dan akhir pandemi

 
Relaksasi dan ancaman gelombang kedua corona. Ilustrasi: Indra Fauzi/kumparan

Hal senada diungkapkan oleh peneliti epidemiologi Eijkman-Oxford Clinical Research Unit (EOCRU), Henry Surendra. Menurutnya, berdasarkan prinsip epidemiologi, indikator keberhasilan penanggulangan pandemi ditentukan oleh penurunan jumlah kasus baru secara konsisten. Sementara itu, Indonesia belum ada tanda-tanda mengalami tren penurunan kasus COVID-19.

Pandu Riono mengatakan, sekarang ada ancaman penularan dari orang tanpa gejala (OTG). Pelonggaran PSBB dengan jumlah tes yang minim berpeluang memperbesar kemungkinan penularan dari OTG

“Kita enggak tahu (siapa yang positif). Kalau enggak dites, kita (tak sadar) membawa virus atau tidak. Sehingga tetap terjadi penularan,” kata Pandu Riono.

Relaksasi, ia berujar, akan menjelma menjadi gelombang kedua bila keputusan pemerintah tidak menggunakan indikator-indikator kesehatan masyarakat dan epidemiologi. “Indikatornya itu harus diterapkan secara konservatif,” tegas Pandu.

Menurut Pandu Riono, kebijakan relaksasi PSBB harus lebih dulu memenuhi tiga kriteria, yaitu kriteria berbasis indikator epidemiologi, kesehatan publik, dan kesiapan pelayanan kesehatan. Namun, sejauh ini Indonesia belum mampu memenuhi satupun kriteria tersebut.

Semoga ulasan ini dapat menjadi pemikiran dan pertimbangan para pengambil kebijakan, stakeholder, pelaku wisata baik itu tour operator, trekking organizer, dan pejalan atau pendaki itu sendiri. Jika dalam waktu dekat wacana relaksasi itu benar terjadi dan destinasi wisata alam memang harus dibuka, sedangkan masa pandemi COVID-19 masih berlangsung, artinya semua sudah harus siap.

 
Salah satu pesona sudut Danau Segara Anak, TN Gunung Rinjani. Foto: Harley Sastha

Pada akhirnya, setiap pengunjung sudah harus mengerti dan memahami, situasi normal yang baru ini. Tidak mungkin mengharapkan pengalaman yang sama seperti pada perjalanan terakhir kamu sebelumnya.

Semuanya akan kembali pada diri kamu masing-masing secara individu untuk bertanggung jawab akan keselamatan, kemananan, dan kesehatan diri kamu dan orang lain tentunya.

Penulis juga Koodinator Bid. Konservasi PB Federasi Mountaineering Indonesia (FMI), Anggota Kehormatan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) dan pengurus Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI).

Source
https://kumparan.com/harley-b-sastha/amankah-mendaki-gunung-pada-masa-pasca-pandemi-covid-19-1tSGJelRdqa/full

Related Posts

Komentar

Open Trip Pendakian Gunung

Open Trip Pendakian Gunung Sumbing, Sindoro, Lawu dan Prau 16-17 Agustus 2020. Informasi selengkapnya hubungi +62 85 643 455 685

Gunung Buka Pasca Covid

Covid 19 memang berbahaya namun dengan pengalaman dan mengantisipasi akan menjadikan bahaya tersebut akan berkurang dan dapat ditiadakan. Dengan semangat Anda Aman Bersama Kami, kami akan berupaya untuk menjaga Anda.

Gunung Buka Pasca Covid (Jateng)

Gunung Lawu (21-24 Juni 2020) #Gunung Prau (03 Juli 2020) #Gunung Sindoro (18-24 Juli 2020) #Gunung Sumbing (01 Agustus 2020)

Jabar - Jatim - Sumatra - Lombok - DLL

Gunung Lainnya kunjungi https://www.xplorewisata.com/p/jalur-buka-tutup-pendakian-gunung.html

Cara Menulis Pesan // Komentar

Anda dapat mengomentari artikel ini menggunakan akun google anda. Silahkan untuk masuk ke email anda / akun google kemudian berkomentar secara bijak.

Xplore Wisata // Operator Porter dan Guide Indonesia


  1. Xplore Wisata adalah salah satu pilihan terbaik untuk pendakian gunung terbaik dengan guide dan porter yang berpengalaman di semua gunung Indonesia.
  2. Inovasi selalu kami lakukan sehingga Anda akan mendapatkan kesan terbaik ketika mendaki bersama kami.
  3. Kami akan memastikan bahwa perjalanan anda akan berkesan serta memuaskan dan rindu untuk bertemu dengan tim kami kembali.

Subscribe Our Newsletter