Jadwal Terencana Open Trip dan Private Trip


SALAM PETUALANGAN !!!

Apabila membutuhkan bantuan informasi, konsultasi, reservasi segera hubungi +62 85 643 455 685 [[ Syarif ]] melalui WhatApp. Pesan anda akan kami respon dengan respon terbaik kami !!!

Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting

  Jalur Pendakian Suwanting
MERBABU VIA SUWANTING: JALUR PENDAKIAN FULL SINYAL
 
Oleh: Heri
 
sabana merbabu swanting
Rasa rindu yang kian tak tertahankan akan segar udara dingin pegunungan menjadikanku berani menetapkan hari untuk melangkah. Rencana pendakian telah kutetapkan. Baik hari maupun tempatnya. Lama tidak menginjakkan pada setapak yang asing dan samar. Beberapa rute pendakian untuk gunung-gunung yang terjangkau sudah tidak lagi mengundang rasa ingin[1]. Maka aku pun mencari informasi tentang jalur-jalur baru. Hingga pada akhirnya menjelang musim pendakian ada informasi yang samar bahwa telah dibuka jalur baru ke gunung Merbabu, yaitu jalur Swanting.
Di tengah usia yang tidak muda lagi, maka aku pun menyiapkan sebaik-baiknya. Dua minggu cukup untuk menyusun langkah, baik persiapan fisik, mental maupun dana yang akan menopangnya. Telah sekian bulan aku tidak lagi menginjakkan kaki pada dataran tinggi. Oleh karena itu segalanya harus dipersiapkan secara masak-masak.
            Pada awalnya banyak yang berminat dan ingin gabung dengan ekspedisi Merbabu via Swanting ini. Namun, menjelang tiba hari yang ditentukan, jumlah aggota yang pasti berangkat hanya dua orang. Mereka adalah aku pribadi (sering dipanggil “pak”, karena memang aku seorang pendidik) dan ada satu muridku (Enggar).
            Minggu, 05 April 2015 tepat pukul 07.00 segala persiapan telah usai. Perbekalan dan peralatan telah selesai aku packing. Namun Enggar belum juga terlihat. Rencana awal memang akan berangkat sepagi mungkin, karena segala sesuatunya masih samar dan asing. Aku menunggu dalam cemas. Namun telah kutekadkat, seandainya Enggar tidak datang, maka tepat pukul 08.00 aku akan berangkat sendiri.
Tepat pukul 07.30, Enggar tiba di rumah. “maaf pak, tadi jam 06.30 baru tiba, semalam masih di Klaten”. Kumaklumi situasinya.
Segera kutata perlengkapan di motor kesayangan. Hingga tepat pukul 08.00, kami berdua meninggalkan Solo menuju Ketep Gardu Pandang. Karena menurut informasi yang masih samar, dukuh Swanting tidak begitu jauh dari tempat tersebut. Para pedagang yang berada di sekitar Ketep katanya telah tahu tentang dukuh Swanting.
 
            Sekitar 1,5 jam perjalanan, sampailah kami di Ketep Gardu Pandang. Aku tidak berhenti dan mencoba mencari tahu tentang keberadaan desa Swanting. Jalur Ketep Gardu Pandang menuju Kopeng buatku tidak terlalu asing. Maka aku juga yakin bahwa dukuh tersebut akan ketemu. Menurut informasi bahwa base camp berada di desa Sambiroto, dukuh Swanting. Desa itu aku telah tahu. Tinggal mencari dukuhnya saja. Sekitar tiga kilo meter dari Ketep Gardu Pandang menuju arah Kopeng, kulihat belokan yang  bertuliskan “Base Camp Merbabu dukuh Swanting”.
            Dengan yakin aku pun membelokkan motor sesuai dengan keterangan tersebut. Dari jalan beraspal kemudian berganti dengan cor-beton. Sepansang jalur cor-beton sepanjang 1,5 km yang penuh dengan kelokan, tikungan, naik serta turun menghantar kami tiba di base camp Swanting. Lega rasanya karena ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukan base camp ini. Ramah penduduk setempat menyambut kami, menjadi obat lelah dan kecemasan.
base camp merbabu swanting
Para pemuda yang tergabung dalam paguyuban “Karang Taruna” menerima, menyambut dan mempersilahkan kami dengan sangat-sangat sopan, ramah dan penuh dengan rasa kekeluargaan.
Langkah pertama untuk memantapkan nyali adalah menggali informasi sebanyak-banyaknya. Medan baru dengan tanpa pengalaman dan tidak dengan orang yang pernah menanjak di jalur ini, maka informasi menjadi sangat penting. Jalur ini pada mulanya adalah jalur penduduk yang melakukan ritual ke puncak Merbabu. Maka jalur ini medannya cukup terjal. Untuk penduduk setempat hanya membutuhkan waktu 3-4 jam. Jalur ini belum memiliki ijin resmi dari pihak Taman Nasional Gunung Merbabu. Makanya, retribusi untuk setiap pendaki hanya Rp 3.000 ditambah biaya parkir motor Rp. 5.000. Karena jalur ini belum resmi maka tidak ada karcis, tidak juga ada asuransi. Namun soal tanggungjawab, pengelola jalur ini boleh diacungi jempol[2].
Satu hal yang sangat berkesan di base camp ini adalah penerimaan mereka. Walau baru pertama bertemu namun seolah-olah kita telah lama kenal. Hingga keakraban yang terjalin pun begitu dekatnya.
            Usai ngorol-ngobrol dengan penjaga base camp, tepat pukul 10.50 kami memulai pendakian. Mengawali misi ini, kami sangat santai karena sesungguhnya kami sedang terpesona. Kami disambut dengan sapaan penduduk yang luar biasa akrabnya. Setiap kami menyapa penduduk, mereka dengan ramah dan senyum selalu mengundang kami untuk berkenan singgah di rumahnya. Sungguh ini lah yang menjadikan perberbedaan dengan jalur pendakian lainnya. Keramahan penduduk Swanting kiranya akan menjadi daya tarik utama jalur ini.
Sekitar 8 menit meninggalkan base camp dan menyusuri jalan kampung, kita dihadapkan pada persimpangan. Kami mengambil arah kiri. Sedangkan arah kanan atu jalan yang bagus akan menghantar pada kampung sebelah. Sekitar 10 menit kita menyusuri jalur ladang penduduk. Lalu kami ketemu dengan batas hutan yang masih sangat lebat. Hutan pinus dan cemara dengan pepohonan yang rapat. Sekitar 5 menit kami menyusuri setapak hutan ini, ternyata kami telah sampai di Pos I, yaitu Lemba Lempong[3]
pos i lemba lempong
Di pos ini memiliki area yang cukup luas untuk mendirikan tenda. Pemandangan yang disajikan pun sudah cukup menarik. Ada keindahan perkampungan yang kalau malam hari pasti menyajikan panorama gerlap lampu neon. Tempat yang datar dengan kanopi-rimbun pepohonan. Juga hamparan padang rumput luas yang nyaman untuk tiduran. Untuk sampai di pos ini pun hanya membutuhkan waktu tempuh tidak kurang dari 25 menit. Di pos ini sinyal HP juga masih sangat kuat. Dari pengalaman pribadi jalur ini adalah jalur pendakian dengan sinyal yang paling kuat. Sepanjang perjalanan dari base camp sampai Pos III, SMS tetap lancar. Mungkin HP mereka-mereka yang sudah canggih, tetap bisa on line. Tetapi punyaku hanyalah HP jadul. 
Sekitar 10 menit kami beristirahat. Lalu kami meneruskan langkah. Setapak terlihat jelas. Namun medan kian menanjak. Waktu tempuh dari Pos I ke Pos II sekitar 60 menit/ 1 jam. Sepanjang jalur ini, kami melewati 3 selter, yaitu secara berurutan Lemba Gosong, Lemba Cemoro dan Lemba Ngrijan. Masing-masing selter memiliki area yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda antar 1-3. Sepanjang jalur masih diwarnai dengan pemandangna hutan yang lebat.
selter ke iii seblum pos ii, lemba ngrijan
Sekitar pukul 13.00, kami tiba di Pos II, yaitu Pos Lemba Mitoh. Pos ini menyuguhkan panorama yang lebih ajib dari pada Pos I. Panorama lembah terlihat, sedangkan punggungan bukit dan hutan yang menghijau asri terlihat di sisi kanan dan kiri. Di pos ini juga memiliki area untuk mendirikan tenda sekitar 6-7. Area yang cukup luas. 
pos ii, lemba mitoh
Pada waktu itu aku sempat ngobrol dengan beberapa pendaki yang nenda di pos ini. Mereka mengeluhkan bahwa jalur ini adalah jalur yang berat. Waktu tempuh yang diceritakan oleh pengelola tidak sesuai dengan kenyataan. “orang sini bilange hanya 4 jam untuk sampai puncak. Kami aja dari pos 2 ke pos 3, butuh waktu 4 jam. Terus sampai di pos 3, kami melihat sabana dengan puncak yang masih sangat jauh. Kami perkirakan bahwa waktu tempuh dari pos 3 ke puncak sekitar 4 jam. Jadi yang diceritakan oleh pengelola itu sebenarnya adalah waktu tempuh dari pos 3 ke puncak. Tapi mase kan udah niat nanjak. Dinikmati saja”.
Aku pun bertanya, “memang mas-mase sudah sampai puncak?”
“Belumlah, kami baru sampai di Pos III.”
Dari keterangan itu, aku menjadi ciut nyali. Untungnya Enggar tidak mendengar keluhan pendaki-pendaki yang sudah turun tersebut. Di pos ini, kami beristirahat cukup lama. Perjalanan siang memang lebih menguras tenaga. Untungnya, sepanjang jalan kami dilindungi oleh kabut yang terus mengurung dan menaungi. Sekitar pukul 14.00, kami melanjutkan perjalanan. Petualangan ini mesti kami tuntaskan.
Tanjakan kian dahsyat, tanjakan tanpa bonus. Terus naik dengan kemiringan antara 25-40 derajat[4]. Sungguh medan yang tidak mudah untuk pendaki yang seusiaku. Aku dan Enggar sepakat untuk gantian membawa tas kerir, sebagai tas utama pengangkut perlengkapan utama. Setiap usai melangkah sekitar 10 meter kami berhenti untuk mengatur nafas. Perjuangan yang luar biasa. 
Sekitar 1 jam meninggalkan Pos II, kami bertemu dengan selter Lemba Manding. Di selter ini dapat digunakan untuk mendirikan tenda sekitar 3-4. Cukup terlindung dari sinar matahari dan angin kencang. Namun disarankan untuk tidak mendirikan tenda di selter ini. 
Selepas Lemba Manding, medan makin menantang, tanjakan curam dengan kemiringan 40-55 derajat. Belum lagi diperparah dengan setapak yang licin. Wajarlah karena jalur ini tertutup rapat, sehingga sinar matahari sulit menembusnya. Harus ekstra hati-hati. 40 menit dari Lemba Manding, kami sampai di selter berikutnya, yaitu Dampo Awang. Selter ini, bisa digunakan untuk peristirahatan sementara. Kalau pun mau mendirikan tenda, selter ini hanya bisa menampung maksimal 2 tenda.
selter terakir sebelum pos iii, dampo awang
Cuaca siang dengan perut yang belum terisi penuh, menjadikan kami kian sempoyongan. Target kami adalah Pos III. Di pos tersebut ada mata air. Sehingga kami dapat memasak secara leluasa. Dengan sisa-sisa tenaga, kami terus melangkah. Bagiku selama kaki masih mau melangkah maka sejauh apapun medan pendakian pada akhirnya akan terselesaikan juga.
 Sekitar pukul 16.00, kami telah keluar dari batas hutan mandingan. Kami dihadapkan pada tanjakan sabana. Hati pun bergirang-senang. Pasti sebentar lagi Pos III. Namun tenaga yang hampir punah menjadikan niat tidak juga menjadi kenyataan. Di depan mata sudah terlihat penanda mata air. Tetapi kaki tak juga segera mencapainya. Keinginan yang kuat tak juga menegakkan raga yang memang sudah sempoyongan. Akhirnya, kami putuskan bahwa aku akan duluan mencapai Pos III, sedangkan Enggar akan pelan-pelan menyusul yang sekalian akan membawa air. Tepat pukul 16.30, aku pun tiba di Pos III, yaitu Pos Swanting.
nyampe di pos iii, swanting
Pos ini sangat idial untuk mendirikan tenda. Cukup luas. Bisa menampung sekitar 20 tenda. Kalau beruntung bisa menikmati keindahan sunset. Tapi pada saat ini, kami belum beruntung. Dekat dengan sumber air. Bila fisik dengan keadaan normal hanya membutuhkan waktu tempuh 5 menit. Tetapi bila tenaga sudah nyaris habis, maka butuh waktu yang lama. Kendati aku dan Enggar masih bisa terus menjaga komunikasi. Namun Enggar tidak muncul-muncul. Hingga tepat pukul 16.50, Enggar sampai di Pos III. Lega rasanya.
Segera kami mencari tempat tenda yang paling nyaman. Tidak menunda lama, kami dengan cepat mendirikannya, memasak, membuat api unggun, sambil menikmati lagu-lagu dari M3 Player. Tentunya, sambil terus ber-SMS ria dengan orang-orang tercinta. 
Dengan demikian dapat kami katakan bahwa waktu yang kami butuhkan dari base camp sampai pos 3 adalah 6 jam. Namun kalau mau dirinci, sebenarnya yang kami butuhkan adalah:
1.      Base camp – Pos I, Lemba Lempong : 23 menit.
2.      Pos I – Pos II, Lemba Mitoh : 60 menit.
3.      Pos II – Selter Lemba Manding : 60 menit.
4.      Lemba Manding – Selter Dampo Awang : 30 menit.
5.      Dampo Awang – Pos III, Swanting : 30 menit.
             Jadi perjalanan kami sekitar 3 jam 23 menit. Waktu yang lainnya adalah untuk istirahat. Sebuah pendakian yang tergolong sangat-sangat santai.
            Hindangan malam telah siap. Kami pun makan malam dengan nikmat, yaitu kentang rebus dengan lauk istimewa. Hingga kami pun kekenyangan. Sekitar pukul 20.00, Enggar telah mendahului dengan dengkur. Sedangkan aku masih sibuk SMS-an dengan isteri tercinta sambil menikmati panorama malam yang indah luar biasa. Terang bulan (tgl 16/ bulan purnama-1) yang bersanding dengan taburan bintang. Angin manja, bukit dengan deretan sabana yang maha luas dan tarian pepohonan hutan. Serta di kejahuan terlihat kerlipan lampu-lampu kehidupan penduduk lintas daerah. Sungguh panorama yang ajib. Keren.
Malam masih berjaga. Tapat pukul 02.30, aku terjaga dan segera menyiapkan sarapan. Rencana pagi ini, kami akan attact summit sekitar pukul 03.30. Raga yang masih malas-malasan terpaksa menawar target. Akhirnya kami berangkat tepat pukul 04.00. Cuaca pagi ini didominasi badai yang lembut. Sesekali angin kencang dan membawa kabut tebal. Namun lebih seringnya mendapat cuaca yang bersahabat.
Indahnya panorama pegunungan saat fajar yang nampak remang-remang di bawah naungan cahaya purnama-1 menjadi daya dorong yang luar biasa. Rapuh raga dan penat badan terkalahkan dengan seketika. Kami berdua bergerak cepat meninggalkan kepenatan itu dan melesat menuju setapak yang samar. Setapak masih kecil, belum terlalu kentara. Untungnya setiap melewati pohon kantigi hampir selalu ada penanda berupa arah dari plat seng. Setiap kali melihat tanda itu kami yakini sebagai medan yang benar. 
Medan jalur dari Pos III menuju Puncak didominasi oleh sabana dengan tetap menyusuri punggungan bukit. Menurut penduduk setempat punggungan bukit itu berjumlah 9. Menurut kepercayaan penduduk setempat legenda nama Kenteng Songo, sebagai puncak tertinggi Merbabu berasal dari jalur ini. Kenteng berarti bukit. Maka ada 9 bukit. Nama kentang songo berarti bukit yang kesembilan. Kami tidak banyak beristirahat dan membuang waktu. Target golden sunrise mesti tercapai. Kami hanya berhenti untuk mengatur nafas. Misalkan kami nekat berhenti lama, pasti akan kedinginan karena terpaan angin yang cukup kencang.
sabana merbabu swanting
Hingga akhirnya, tepat pukul 05.00 kami tiba di  puncak Triangulasi. Lima menit kemudian, kami tiba di puncak Kenteng Songo (3.145 Mdpl). Syukur Tuhan atas penyertaan-Mu. Di sini kami bertemu dengan beberapa pendaki yang nge-kem di puncak. Kami pun saling berbagi cerita. Persahabatn yang khas anak gunung.
menunggu sunrise merbabu
Keindahan alam saat gelap berganti terang bila dilihat dari ketinggian memang selalu luar biasa. Hanya ada decak kagum. Pagi ini tepat pukul 05.30 indah panorama sunrise menyambut kami. Hanya ada rasa syukur atas keindahan yang boleh kami nikmati dan alami. 
berdua kami sampai di puncak merbabu. sunrise
Pelan dan pasti, matahari bersinar dengan cerahnya. Mentari pagi ini, berhasil menghalau gumpalan awan hitam dan menyingkirkan kabut putih pegunungan. Aku dan Enggar bertekat untuk menikmati keindahan sabana sepanjang perjalanan turun. Segera setelah mentari bersinar dengan lantang, kami pun memutuskan untuk kembali mengayunkan langkah turun ke peradaban.
Sepanjang perjalanan melewati deretan sabana Merbabu via Swanting ini, hati hanya bergetar, terkagum-kagum, terpana dan terkesima. Hamparan sabana yang begitu luas membawa aku secara pribadi berimajinasi ke alam yang tidak terbahasakan. Sekitar 45 menit kami turun dan sampailah di tenda tercinta. 
sabana merbabu swanting
sabana yg keren
Bernaung di bawah awan tipis yang sejenak menghalangi terik matahari, kami membongkar tenda dan kembali berkemas-kemas untuk meneruskan langkah pulang. Tepat pukul 08.30 kami meninggalkan Pos III. Melangkahkan kaki dengan keyakinan penuh bahwa sore ini kami akan segera bertemu dengan orang-orang yang senantiasa mencintai kami. Menyusuri setapak yang menurun-sempit, licin dan rapuh-mudah longsor, kami harus ekstra hati-hati. 
tenda tercinta di pos iii swnating merbabu
Satu per satu selter telah terlewati. Hingga tepat satu jam, kami telah sampai di Pos II. Sekitar 30 menit kami beristirahat, sambil menikmati perbekalan yang masih buanyak. Perut yang terisi menjadikan tenaga pulih. Kembali kami pun melangkah. Sekitar 40 menit, kami telah tiba di Pos I. Kembali kami mencoba menghabiskan perbekalan. Namun apa daya, perut punya daya tamping maksimal. Hingga akhirnya kami putuskan untuk segera turun ke base camp. Beristirahat di sana lalu pulang ke rumah. Dari Pos I ke base camp membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Cukup singkat.
Adapun waktu tempuh perjalanan turun dari puncak sampai base camp adalah sebagai berikut:
1.      Puncak – Pos III, Swanting : 45 menit.
2.      Pos III – Pos II, Lemba Mitoh : 60 menit.
3.      Pos II – Pos I, Lemba Lempong : 40 menit.
4.      Pos I – Base Camp : 15 menit.
Jadi waktu tempuh yang dibutuhkan untuk perjalanan turun sekitar 2 jam 40 menit. Cukup singkat. Tetapi semua tergantung pada kemampuan fisik para pendakinya.
Sesampainya di base camp, kami disambut oleh pengelola. Ada penerimaan yang sangat bersahabat. Segelas teh telah menanti. Kami pun banyak bercakap, berbagi pengalaman. Mereka juga meminta masukan. Tujuannnya agar pengelolaan jalur ini semakin professional. Jalur ini akan masih banyak mengalami perubahan dan perbaikan. Sekitar 60 menit kami ngobrol. Lalu kami pun berpamitan untuk meneruskan perjalanan. Meliuk kembali motorku di jalan beraspal dan tepat pukul 14.00, aku telah kembali tiba di rumah. Saatnya beristirahat, memulihkan tenaga. Agar besok bisa kembali bekerja dengan segar. Terimakasih Merbabu via Swanting, setapakmu telah mengajari banyak hal tetnag arti hidup dan cara mengisinya. Semoga ada waktu untuk kembali belajar pada setapak yang sama.



[1] Harianku aktif sebagai karyawan. Aku bekerja di salah satu sekolah swasta Solo. Maka untuk terus bisa menyalurkan hobi mendaki gunung, biasanya aku lakukan di gunung-gunung yang terjangkau (maksudnya adalah dekat dengan kota Solo dan dapat dicapai dengan waktu tempuh hari Sabtu-Minggu). Oleh karena itu gunung yang paling sering aku daki adalah Lawu, Merapi dan Merbabu.
[2] Waktu aku di sana ada satu pendaki yang tersesat, dan pihak pengelola dengan cekatan langsung menyusur kembali dan berjuang untuk segera menemukan. Pada waktu itu, tengah malam pendaki yang tersesat karena salah jalur sudah ditemukan.
[3] Pada jalur ini, banyak nama pos dan selter yang menggunakan nama “Lemba”, saya tidak sempat menanyakan apa yang dimaksud dengan “Lemba”. Apakah itu maksudnya Lembah (karena salah penulisan) ataukah istilah khas dari dukuh ini. 
[4] Menapaki jalur Merbabu via Swanting ini, mengingatkanku pada jalur Rinjani via Sembalun, yaitu tujuh bukit penyesalan. Trek yang naik terus, tanpa bonus. Dengan medan licin, hutan lebat yang membutuhkan tenaga ekstra.

Related Posts

Komentar

Open Trip Pendakian Gunung

Open Trip Pendakian Gunung Sumbing, Sindoro, Lawu dan Prau 16-17 Agustus 2020. Informasi selengkapnya hubungi +62 85 643 455 685

Gunung Buka Pasca Covid

Covid 19 memang berbahaya namun dengan pengalaman dan mengantisipasi akan menjadikan bahaya tersebut akan berkurang dan dapat ditiadakan. Dengan semangat Anda Aman Bersama Kami, kami akan berupaya untuk menjaga Anda.

Gunung Buka Pasca Covid (Jateng)

Gunung Lawu (21-24 Juni 2020) #Gunung Prau (03 Juli 2020) #Gunung Sindoro (18-24 Juli 2020) #Gunung Sumbing (01 Agustus 2020)

Jabar - Jatim - Sumatra - Lombok - DLL

Gunung Lainnya kunjungi https://www.xplorewisata.com/p/jalur-buka-tutup-pendakian-gunung.html

Cara Menulis Pesan // Komentar

Anda dapat mengomentari artikel ini menggunakan akun google anda. Silahkan untuk masuk ke email anda / akun google kemudian berkomentar secara bijak.

Xplore Wisata // Operator Porter dan Guide Indonesia


  1. Xplore Wisata adalah salah satu pilihan terbaik untuk pendakian gunung terbaik dengan guide dan porter yang berpengalaman di semua gunung Indonesia.
  2. Inovasi selalu kami lakukan sehingga Anda akan mendapatkan kesan terbaik ketika mendaki bersama kami.
  3. Kami akan memastikan bahwa perjalanan anda akan berkesan serta memuaskan dan rindu untuk bertemu dengan tim kami kembali.

Subscribe Our Newsletter