Porter Ranu Pane Semeru, Rute Pendakian Gunung Semeru

Porter Ranu Pane Semeru, Rute Pendakian Gunung Semeru

Rute Pendakian Gunung Semeru

15:46 Posted by ananda beetle

Puncak semeru dari sekitar pertigaan jemplang
 
Perjalanan dimulai dari Tumpang, Malang. Bisa menggunakan Jeep dengan tarif 400.000/jeep (Agustus 2013) ke Ranupani, sebuah desa yang berada di titik awal menuju rute pendakian gunung Semeru. Di Ranupani ini berdiri basecamp tempat pendaki melaporkan diri, Semeru merupakan gunung berapi aktif dan merupakan jajaran pegunungan yang berada dibawah pengelolaan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, maka kegiatan lapor diri adalah suatu hal yang diharuskan, karena instansi terkait bisa langsung mencari apabila kita tersesat di gunung ini, disisi lain lapor diri juga berguna untuk mendata aktivitas pendakian di gunung ini, sehingga pihak TNBTS bisa memantau kerusakan yang terjadi akibat pendakian berlebih.
Gerbang pendakian

Setelah urusan administrasi selesai, kita bisa langsung berangkat melalui jalan kampung dan kita akan menemui gerbang pendakian yang berada di sebuah pertigaan.
 
Setelah kira-kira 5 menit berjalan melewati gerbang selamat datang kemudian dilanjut menyusuri jalanan di ladang penduduk, kita bisa melihat petunjuk arah ke kiri menaiki bukit yang menunjukan jalur pendakian gunung Semeru. Jalur awal ini sangat jelas, karena jalanan sudah di pavling sehingga orang awam pun bisa mengikuti kemana jalan ini mengarah, perjalanan mengitari punggungan bukit, berkelok-kelok, menembus rimbunan hutan, trek ini dinamakan Landengan Dowo, hingga tiba di POS SATU, pos ini berupa sebuah shelter bangunan di kiri jalur pendakian, di pos ini terkadang terlihat beberapa ekor kera ekor panjang yang saling berebut makanan sisa para pendaki

Jembatan kayu, akses utama antar pos.

Perjalanan berlanjut menuju pos selanjutnya, setelah kurang lebih satu jam perjalanan menyisir punggungan bukit hijau serta merambah hutan gunung Semeru yang di dominasi semak belukar, kita akan melewati Watu Rejeng, kemudian terus berjalan sampai di POS DUA, pos ini berupa shelter yang berdiri di kanan jalur pendakian, berdiri dibawah pohon-pohon besar yang rimbun, pos ini sangat cocok untuk melepas penat sejenak, sambil mengumpulkan kembali tenaga yang mulai terkuras. Setelah puas beristirahat, perjalanan berlanjut dengan melintasi jalan setapak yang mulai tak tampak pavling jalanya, karena tertutupi oleh rimbun semak. Setelah melintasi beberapa pohon tumbang kita akan melewati sebuah jembatan dari kayu, jangan berhenti ditengah jembatan, karena ini merupakan satu-satunya akses naik-turun di jalur ini, lalu perjalanan berlanjut hingga POS TIGA, sebuah pos yang hanya tersisa atap bangunanya saja, setelah sejenak beristirahat, dari pos ini kita belok naik ke kanan, jalur pendakian agak menanjak sedikit curam dan berdebu, setelah sekitar satu jam melintasi semak dan tanaman perdu, dikejauhan akan nampak sebuah danau, danau ini disebut Ranu Kumbolo, sebuah pelepas penat dan penambah semangat yang menggiurkan setelah sekian lama perjalanan, setelah melewati POS EMPAT yang hanya lima menit dari Ranu Kumbolo, kita masih harus menaiki bukit disebelah kanan Ranu Kumbolo, sambil menyisir bukit kita bisa melihat karya Allah yang maha indah, setelah sekitar lima menit menyusuri bukit, kita sampai di depan pos Ranu Kumbolo, disini kita bisa camping istirahat untuk menyiapkan tenaga di esok hari, di Ranu Kumbolo ini kita bisa mengisi ulang persedian air kita, namun lebih baik dimasak terlebih dahulu, karena tak sedikit pendaki yang membuang sisa makanan, atau mencuci peralatan disini, tak jarang pula kami temui pendaki yang melakukan aktivitas mck disekitar danau (jangan ditiru).



Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau alami yang terbentuk akibat tampungan air di sebuah cerukan yang dikelilingi perbukitan, melihat sunrise dari danau ini sangatlah indah, ketika matahari muncul diantara dua bukit yang melatar belakangi Ranu Kumbolo disisi timur, sejenak kita akan terpaku menyadari betapa indah maha karya ini.

Pagi di Ranu Kumbolo
Burung penikmat mie instant .
 
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan melintasi tanjakan cinta, jalan setapak yang membelah dua bukit di sisi barat Ranu Kumbolo, setelah sampai di atas tanjakan, bila kita memandang kebelakang akan tampak pantulan cahaya matahari di Ranu Kumbolo, sedangkan bila kita memandang ke depan maka akan tampak oro-oro ombo, padang savana yang ditumbuhi bunga-bungaan dan ilalang. di oro-oro ombo ini menurut saya adalah salah satu savana terbaik di Indonesia, damai menyelimuti ketika saya tiba di tempat ini, ingin rasanya berlama-lama disini, memandang puncak mahameru di kejauhan, akhirnya kita menyadari sebenarnya kita hanyalah setitik kecil dari kuasa tuhan. Namun, disisi lain, suatu hal indah tak selalu indah, semua indah pada waktunya, begitu juga Oro-oro ombo ini, pada musim kemarau, daerah ini rawan terjadi kebakaran, patut diwaspadai rembetan kebakaran dari daerah sekitar terkadang turut melahap savana yang indah ini.
 
Setelah melintasi oro-oro ombo, kita akan sampai di Cemoro Kandang, keadaan begitu kontras dengan di oro-oro ombo tadi, karena jalur yg kita tempuh akan melewati hutan pinus yang beberapa tumbang, dan sebagian terbakar. Melewati sebuah sungai kering dan setelah  berjalan sekiranya satu jam, sampailah kita di Jambangan.
 
Jambangan merupakan padang rumput yang ditumbuhi edelweis, nampak juga beberapa cantigi, jadi Jambangan lebih seperti padang rumput yang dikelilingi pepohonan. Dari Jambangan, jalur masih berupa jalan setapak yang ditumbuhi ilalang di kanan dan kiri, perjalanan di rute inilah yang paling mengasyikkan, apalagi perjalanan dilakukan disore hari, dimana kilau cahaya matahari menerobos masuk disela dedaunan dan terpancar buram karena banyaknya ilalang, sungguh pemandangan yang indah  menikmati pemandangan sore di rute ini.
 
Setelah beberapa kali menerobos rimbunya hutan, kita akan sampai di Kalimati, titik dimana pihak TNBTS membatasi pendakian ke puncak Semeru, dikarenakan status Semeru yang merupakan salah satu gunung ter-aktif, jadi untuk mengantisipasi terjadinya letusan secara mendadak, pihak TNBTS membatasi pendakian hanya diperbolehkan sampai titik ini saja.
 
Kalimati adalah sebuah savana yang cukup luas, dikelilingi hutan pinus dan ilalang di sekitar. Di sini terdapat sumber air bersih yaitu sumber mani, tepatnya ke arah barat dan menuruni sungai kering di kali mati. sumber mani adalah air resapan dari celah bukit diatasnya, saat sumber air ini sepi dikunjungi, terkadang kita dapat melihat kawanan kera ekor panjang memuaskan dahaga disini, karena ini adalah titik air terdekat yang ditemukan dari puncak Mahameru. 
 
Di Kalimati ini nampak dari kejauhan puncak Mahameru, sesekali tampak lambungan asap sulfatra dari kawah Jonggring saloka, kita bisa puas mengabadikan momen berharga di sini, setelah cukup beristirahat, pendakian dilanjutkan menuju Arcopodo, jalur ketimur melintasi savana Kalimati, lalu turun dan kemudian naik menyusuri hutan tertinggi di Semeru, setelah berjalan naik sekitar satu koma lima kilo meter, sampailah kita di Arcopodo, sebuah pos yang digunakan sebagai alternative camp bagi para pendaki selain di Kalimati ataupun Ranu Kumbolo.
 
Arcopodo +/- 3000 mdpl, dulunya adalah tempat pertapaan, dimana terdapat dua buah reca (bhs jawa :patung sesembahan) yang konon dua buah arca ini dapat berjalaan dan berpindah tempat, namun keberadaan arca ini mulai tak terawat, itupun tersembunyi karena tertimbun semak belukar.
 
Sebenarnya, menurut beberapa sumber, jalur Arcopodo yang sekarang bukanlah Arcopodo yang dulu dilewati oleh dua pendaki Mapala UI, Norman Edwin dan Herman O. Lantang.
 
Setelah melewati pos Arcopodo, kita masih terus naik, menyusuri kawasan hutan atas Semeru yang didominasi oleh tanaman-tanaman sejenis cemara gunung. Jalur yang dilewati masih berupa jalan setapak, berdebu di musim kemarau, dan becek di musim penghujan, di sisi kanan jalur menuju batas vegetasi adalah jurang, jadi haruslah tetap berhati-hati. Setelah sampai di batas vegetasi, pendakian semakin dekat dengan puncak, dan menurut saya, summit attack atau pendakian menuju puncak inilah hal tersulit dari sekian trek dalam pendakian menuju Semeru ini, karena medan yang kita lalui adalah tanjakan pasir tanpa satupun vegetasi yang tumbuh. Benar saja kalau orang bilang naik dua langkah turun satu langkah, karena saat kita melangkah, kaki kita akan terperosok kedalam pasir, sehingga menjadikan pijakan yang tidak stabil yang mengakibatkan beban pendakian terasa semakin berat. Kalau anda pernah mendaki gunung Merapi via Selo/Plawangan trek ini mirip dengan trek dari pasar Bubrah menuju puncak Merapi, namun untuk trek Semeru kita dipaksa berjalan lurus langsung melintasi kemiringan, sedang di Merapi kita bisa berjalan diagonal dari sisi kiri ke kanan menuju puncak.
 
Setelah bersusah payah menjejakkan kaki di sela pasir Semeru, sampailah kita di puncak Mahameru, tempat tertinggi di ranah Jawa,  tempat impian bagi mereka yang memimpikanya.


Posting Komentar

Anda dapat mengomentari artikel ini menggunakan akun google anda. Silahkan untuk masuk ke email anda / akun google kemudian berkomentar secara bijak.

Lebih baru Lebih lama

Paket Pendakian Gunung

Package Corporate

Package Honeymoon

Safary Trip

Xplore Wisata

XploreWisata merupakan salah satu jasa penyedia jasa layanan guide dan porter pendakian gunung.

Hubungi Admin